Langsung ke konten utama

Dorong Mobil Mogok, Mobilnya Hidup Kita Ditinggal : Fenomena Kacang Lupa Kulit Di Dunia Jurnalistik Lampung


Rajaberita.info - Ada pepatah lama yang berbunyi, “kacang lupa kulitnya”. Ungkapan sederhana ini menggambarkan seseorang yang melupakan asal-usul, jasa, dan orang-orang yang pernah membantunya ketika berada dalam kesulitan.

Belakangan, pepatah itu terasa relevan dengan dinamika dunia jurnalistik Lampung. Setidaknya, itulah yang tergambar dari sindiran Ketua Himpunan Wartawan Lampung (Hiwala), Wahyudi, ketika melontarkan kalimat, “Dorong mobil mogok, mobilnya hidup kita ditinggal.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup dalam. Ada kekecewaan terhadap solidaritas yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika seseorang sedang kesulitan, kawan-kawan datang membantu. Namun, setelah keadaan membaik, mereka justru merasa ditinggalkan.

Persoalan ini mencuat setelah Aza, seorang jurnalis yang mengalami pemecatan dari Garuda TV, mendapat dukungan dari sejumlah rekan seprofesi. Bagi mereka, persoalan pemecatan bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan menyangkut penghidupan dan harkat seseorang yang patut diperjuangkan.

Konflik di lapangan, tekanan pekerjaan, hingga persoalan dengan pihak tertentu memang bukan hal baru dalam dunia jurnalistik. Wartawan sudah lama menghadapi berbagai risiko ketika menjalankan tugasnya. Karena itu, ketika seorang rekan berada dalam kesulitan, tidak sedikit yang merasa perlu turun tangan.

Namun, persoalan kemudian berkembang ketika Aza disebut bergabung dengan tim media Wakil Gubernur Lampung. Perubahan itu memunculkan kekecewaan di kalangan rekan-rekan yang sebelumnya ikut memberikan dukungan. Mereka merasa tidak mendapat kabar atau komunikasi yang semestinya terjalin setelah bersama-sama memperjuangkan persoalan tersebut.

Di sinilah sindiran Wahyudi menemukan konteksnya.

Dorong mobil mogok, mobilnya hidup kita ditinggal.

Perumpamaan itu menggambarkan seseorang yang dibantu ketika sedang kesulitan, tetapi setelah kembali bisa melanjutkan perjalanan, orang-orang yang ikut mendorong justru ditinggalkan di pinggir jalan.

Tentu, tidak ada yang salah ketika seseorang mendapatkan pekerjaan baru atau memilih jalan karier yang berbeda. Setiap orang berhak menentukan masa depannya sendiri. Namun, persoalannya bukan semata-mata soal pekerjaan baru, melainkan bagaimana hubungan dengan orang-orang yang pernah membantu tetap dijaga.

Sebab, ucapan terima kasih dan komunikasi yang baik bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Justru dari hal-hal sederhana seperti itulah seseorang menunjukkan bagaimana ia menghargai orang lain.

Ketika Solidaritas Mulai Dipertanyakan

Dalam dunia jurnalistik, solidaritas bukan sekadar jargon yang terdengar lantang ketika ada persoalan. Ia menjadi kekuatan bagi wartawan saat menghadapi tekanan, intimidasi, bahkan persoalan hukum akibat pekerjaan jurnalistiknya.

Ketika seorang wartawan kehilangan pekerjaan atau menghadapi masalah, rekan-rekan seprofesi sering kali ikut bersuara. Mereka membantu dengan kemampuan yang dimiliki, menyampaikan dukungan, dan memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai hak seorang wartawan.

Perjuangan seperti itu tentu tidak selalu mudah. Ada tenaga, waktu, pikiran, bahkan risiko yang harus dihadapi. Maka, ketika orang yang pernah dibantu dinilai tidak lagi menjaga komunikasi, wajar jika muncul kekecewaan.

Ungkapan “kacang lupa kulitnya” pun menjadi sindiran yang menggambarkan perasaan tersebut.

Namun, solidaritas juga tidak seharusnya berubah menjadi tuntutan agar seseorang terus terikat kepada kelompok yang pernah membantunya. Bantuan bukan alat untuk mengatur pilihan hidup orang lain. Yang patut dijaga adalah etika, komunikasi, dan penghargaan terhadap kebersamaan yang pernah terjalin.

Di sinilah persoalannya menjadi penting. Solidaritas tidak berarti semua orang harus selalu berada di jalan yang sama. Tetapi ketika pernah berdiri bersama dalam sebuah perjuangan, setidaknya hubungan baik jangan sampai hilang hanya karena keadaan telah berubah.

Dekat dengan Kekuasaan, Jangan Lupa Jalan yang Pernah Lupa Daratan

Wahyudi tidak hanya menyoroti persoalan solidaritas. Ia juga menyinggung sikap yang dinilainya berkaitan dengan kedekatan seseorang dengan lingkungan kekuasaan.

“Kan kita tahu, dulu dia (DP) juga profesinya sebagai jurnalis, sebagai wartawan di lapangan,” tegas Wahyudi.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa menjadi wartawan bukan pekerjaan yang selalu nyaman. Ada tekanan ketika mencari informasi, ada risiko saat melakukan peliputan, dan ada kalanya wartawan harus berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak menerima pemberitaan.

Mereka yang pernah merasakan kerasnya pekerjaan di lapangan tentu memahami situasi tersebut. Karena itu, ketika seseorang kemudian mendapat kesempatan baru dan berada di lingkungan yang berbeda, pengalaman masa lalu semestinya tetap menjadi pengingat.

Kedekatan dengan pejabat atau pemerintah bukanlah sebuah kesalahan. Begitu pula ketika seorang wartawan memilih bekerja di bidang komunikasi pemerintahan. Yang perlu dijaga adalah sikap dan cara memperlakukan orang lain.

Jangan sampai perubahan posisi membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada mereka yang masih menjalani pekerjaan di lapangan. Sebab, jabatan dan lingkungan kerja bisa berubah, tetapi penghormatan terhadap sesama seharusnya tetap sama.

Bukan Hanya Soal Aza, Ada Nasib Wartawan yang Harus Diperhatikan

Di balik polemik tersebut, ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni nasib wartawan ketika menghadapi pemecatan dan tekanan dalam menjalankan profesinya.

Wahyudi menegaskan bahwa persoalan yang menyangkut penghidupan dan harkat seseorang tetap harus mendapat perhatian.

“Saya enggak begitu peduli, tapi terkait pemecatan itu, itu kan ada hajat hidup, harkat seseorang yang memang harus dibela. Itu poin yang paling krusial,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi bagian penting dari persoalan ini. Sebab, kehilangan pekerjaan bukan perkara ringan. Ada penghasilan yang terhenti, ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, dan ada masa depan yang ikut dipertaruhkan.

Karena itu, pembelaan terhadap wartawan yang menghadapi persoalan pekerjaan seharusnya tidak berhenti pada ramainya dukungan sesaat. Perlu ada perhatian terhadap duduk perkara, hak-hak yang bersangkutan, serta penyelesaian yang adil bagi semua pihak.

Wahyudi juga menyoroti kecenderungan pelaporan terhadap kerja jurnalistik ke kepolisian.

“Sebentar-sebentar dilaporin ke polisi, sebentar-sebentar dilaporin ke polisi,” keluhnya.

Kritik tersebut berkaitan dengan pentingnya perlindungan terhadap wartawan. Dalam menjalankan tugas, jurnalis bisa saja menghadapi keberatan atau gugatan atas pemberitaan yang dibuatnya. Namun, persoalan yang berkaitan dengan karya jurnalistik perlu ditangani melalui mekanisme yang tepat, dengan tetap menghormati hukum dan hak semua pihak.

Wahyudi bahkan mempertanyakan perlunya pembentukan tim khusus untuk membantu wartawan di Provinsi Lampung.

“Apa mau dibentuk tim khusus untuk membela para jurnalis Provinsi Lampung? Itu poin yang sepertinya memang harus kita sikapi,” ujarnya.

Gagasan tersebut layak dibicarakan bersama organisasi pers dan pihak terkait. Wartawan membutuhkan pendampingan ketika menghadapi persoalan hukum maupun tekanan dalam menjalankan tugasnya. Perlindungan itu bukan berarti wartawan kebal hukum, melainkan memastikan hak dan kebebasan pers dihormati sesuai ketentuan yang berlaku.

Jangan Lupakan Mereka yang Pernah Membantu

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang seseorang yang berpindah pekerjaan atau mendapat kesempatan baru. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana solidaritas dipahami dan dijalankan ketika keadaan berubah.

Tidak ada yang salah dengan melanjutkan perjalanan hidup. Tidak ada pula kewajiban bagi seseorang untuk terus berada dalam kelompok yang sama. Namun, menghargai orang-orang yang pernah membantu bukanlah perkara yang seharusnya sulit dilakukan.

Wahyudi dan rekan-rekan Hiwala menyampaikan kritik yang berangkat dari kekecewaan terhadap situasi tersebut. Kritik itu tentu dapat menjadi bahan refleksi bagi kalangan jurnalistik Lampung, terutama mengenai pentingnya menjaga komunikasi dan solidaritas antarsesama.

Sebab, dunia jurnalistik tidak hanya membutuhkan keberanian untuk menyuarakan persoalan, tetapi juga sikap saling menghargai di antara mereka yang menjalani profesi yang sama.

Mobil yang mogok mungkin bisa kembali berjalan setelah didorong. Mesin yang semula mati bisa hidup lagi, lalu kendaraan melaju meninggalkan tempatnya semula. Namun, jangan sampai orang-orang yang ikut mendorong justru dilupakan setelah perjalanan kembali lancar.

Sebab, yang paling diingat dari sebuah perjalanan bukan hanya siapa yang berhasil sampai ke tujuan, tetapi juga siapa yang pernah membantu ketika jalan terasa berat.

Dan di situlah makna pepatah “kacang lupa kulitnya” menemukan tempatnya: sebuah pengingat bahwa perubahan keadaan seharusnya tidak membuat seseorang melupakan asal-usul, kebersamaan, dan orang-orang yang pernah hadir ketika dirinya membutuhkan pertolongan (red).

Komentar

Populer

Dua Buruh Nyambi Jual Sabu Di Bandar Lampung, 11 Gram Disita Polisi

Rajaberita.info - Dua pria di Bandar Lampung berinisial S (26) dan D (22) ditangkap polisi karena diduga menjual sabu. Keduanya ditangkap di sebuah penginapan di kawasan Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. Kasus ini terungkap setelah polisi mendapat informasi adanya aktivitas narkotika di lokasi tersebut. Tim Opsnal Satresnarkoba Polresta Bandar Lampung kemudian bergerak ke lokasi pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Polisi mendapati S dan D berada di lokasi. Keduanya langsung diamankan dan digeledah. Dari tangan mereka, polisi menemukan 22 paket kecil sabu dengan berat bruto 11,03 gram yang disimpan dalam dompet warna cokelat. Selain itu, polisi menyita satu paket sabu lainnya, seperangkat alat hisap, dua ponsel dan satu sepeda motor. Kasat Narkoba Polresta Bandar Lampung Kompol Indik Rusmono mengatakan kedua tersangka mengaku mendapatkan sabu dari seorang pria berinisial R yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). “Dari pemeriksaan, kedua tersangka mengaku bekerja kepa...

Kapolsek Tanjung Bintang Geruduk Koramil 421- 09 /TJB Berikan Ucapan Selamat Dihari Jadi TNI Ke - 81

Rajaberita.info - Jajaran personil Polsek Tanjung bintang yang di pimpin langsung oleh Edi Qorinas S.H ,M.H selaku Kepala Kepolisian Sektor Tanjung bintang (Kapolsek), geruduk Posramil Tanjung bintang/Koramil 421-09/TJB berikan ucapan selamat HUT TNI Ke-81. Senin.(5/10/2026) HUT TNI 2026 diperingati pada Senin, 5 Oktober 2026. Tahun ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasuki usia 81 tahun sejak pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1945. Peringatan HUT ke-81 TNI mengusung tema TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur. Salurkan Bantuan Air Bersih ke 25 Desa Terdampak Kekeringan Tema tersebut menegaskan pentingnya hubungan antara TNI /Polri an masyarakat dalam mendukung pengabdian serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Acara HUT TNI ke-81 yang digelar di Posramil Tanjung bintang selain jajaran Personil Polsek Tanjung bintang nampak dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kecamatan Tanjung bintang, serta di banjiri oleh puluhan papan ucapa...

Pamapta Polres Tulang Bawang Turun Langsung Padamkan Karhutla Di Cakat Raya

Rajaberita.info - Respons cepat kembali ditunjukkan jajaran Polres Tulang Bawang dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat. Personel PAMAPTA I, IPDA Fredi Wicaksono, S.H., turun langsung melakukan patroli sekaligus membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kampung Cakat Raya, Kelurahan Menggala, Kecamatan Menggala Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Kebakaran lahan yang terjadi tepat di depan SPBU Cakat Raya tersebut langsung mendapatkan penanganan dari petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Tulang Bawang. Kehadiran personel kepolisian di lokasi menjadi bagian dari upaya respons cepat guna memastikan situasi tetap aman dan arus lalu lintas tidak terganggu. Di tengah penanganan kebakaran, personel PAMAPTA I turut memantau kondisi di sekitar lokasi serta memastikan aktivitas pengguna jalan tetap berjalan dengan lancar. Berdasarkan laporan petugas, arus lalu lintas ...

Gerak Cepat Danrem 043/Gatam Sehari Usai Retreat Presiden Langsung Sampaikan Arahan Ke Kodim 0421/Lampung Selatan

Rajaberita.info - Danrem 043/Garuda Hitam Brigjen TNI Sumarlin Marzuki meminta prajurit TNI yang bertugas di wilayah tidak hanya memahami tugas pokok dan perkembangan organisasi, tetapi juga mengetahui berbagai program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Hal itu disampaikan Sumarlin saat melakukan  kunjungan kerja ke Makodim 0421/Lampung Selatan, Kamis (8/10/2026). Menurut Sumarlin, prajurit, khususnya Babinsa, memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, mereka diharapkan mampu menjadi penghubung dalam menyampaikan informasi yang benar sekaligus memahami berbagai persoalan yang berkembang di wilayah binaannya. “Jadi, untuk kita semua, paling tidak pahami beberapa program utama. Dengan begitu, ketika masyarakat bertanya, kita bisa menjelaskan dengan baik,” ujar Sumarlin. Sejumlah program yang diminta untuk dipahami prajurit di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, swasembada pangan, cek kesehata...

Keluar Dari GSG, Mahasiswa FP Unila Diduga Dikeroyok : Korban Lapor Polisi

Rajaberita.info - Kericuhan dalam Parade Universitas Lampung (Unila) 2026 berujung pada dugaan pengeroyokan terhadap seorang mahasiswa Fakultas Pertanian (FP). Korban, Zuhri Azis Ibrahim, mahasiswa Jurusan Kehutanan angkatan 2024, mengaku menjadi korban kekerasan setelah keluar dari Gedung Serbaguna (GSG) Unila, Sabtu (3/10/2026). Zuhri mengatakan, sebelumnya terjadi keributan di dalam gedung. Ia sempat terlibat perselisihan dengan mahasiswa lain yang disebut bermula dari persoalan perebutan kursi. Situasi semakin memanas setelah adanya penggunaan smoke bomb. Panitia kemudian meminta Zuhri dan mahasiswa yang terlibat perselisihan dengannya untuk keluar dari gedung. “Saya keluar karena diminta panitia. Saya kira masalahnya sudah selesai. Tapi setelah berada di luar, saya justru didatangi dan dipukuli oleh beberapa orang,” kata Zuhri, saat dimintai keterangan, pada Senin, (5/10/2026). Menurut Zuhri, dirinya mengalami luka di sejumlah bagian tubuh akibat kejadian tersebut. “Saya mengalam...