Sejumlah orang tua siswa mengungkapkan adanya dugaan praktik diskriminatif dalam pemberian dukungan prestasi. Mereka menilai, sekolah tidak lagi sepenuhnya berfokus pada kemampuan akademik atau capaian prestasi, melainkan cenderung memprioritaskan siswa dengan penampilan fisik yang menarik.
Salah satu wali murid di Bandar Lampung, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku kecewa atas kondisi tersebut. Ia menyebut anaknya yang memiliki kemampuan akademik baik justru kerap terabaikan dalam seleksi perlombaan maupun kesempatan mewakili sekolah.
“Seolah ada aturan tak tertulis. Kalau ingin didukung penuh dan jadi wajah sekolah, harus punya penampilan menarik. Anak yang biasa saja, meski cerdas, sering kali tidak mendapat kesempatan,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan wali murid lain yang menyoroti adanya kecenderungan pemilihan delegasi lomba berdasarkan aspek visual demi menjaga citra sekolah di ruang publik. Hal ini dinilai menciptakan ketimpangan kesempatan serta memunculkan tekanan psikologis bagi siswa yang merasa tidak memenuhi standar estetika tertentu.
Pemerhati sosial dari Jaringan Penggiat Sosial Indonesia (JPSI), Ichwan menilai fenomena ini berpotensi membentuk “kasta sosial” baru di lingkungan sekolah. Siswa dengan penampilan menarik lebih sering mendapatkan panggung, sementara yang lain berisiko kehilangan kepercayaan diri dan motivasi untuk berkembang.
"Kurangnya apresiasi terhadap prestasi siswa yang dianggap tidak “camera-ready” hanya berakhir sebagai dokumentasi tanpa pengakuan yang setara. Dampaknya, semangat kompetisi sehat dan nilai sportivitas dalam dunia pendidikan menjadi tergerus" ungkap Ichwan.
Untuk itu, Ichwan mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan internal sekolah-sekolah unggulan tersebut.
"Kami berharap predikat “unggulan” dikembalikan pada esensinya, yaitu mengembangkan kecerdasan, karakter, dan potensi siswa tanpa diskriminasi" pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi atas isu dugaan diskriminasi berbasis penampilan yang mencuat bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional ini (red).

Komentar
Posting Komentar